Ilustrasi · prosa · Uncategorized

Seperti Lingkaran Empat Musim?

Aku beri nama pada tiap matahari di senyumnya.
Tingkah laku yang selalu memiliki definisi.
Lidah yang berlatih ucapkan nama.
Sebongkah buku untuk maknai jingkat rasa.
Menikam tali waktu.
Mendeburkan kerlap kerlip abu.

Namun hanya satu.
Satu tindakan salah, hatipun berbingung arah.
Kata orang, ia berlari tanpa tertangkap lensa mata.
Aku masih merangkai aksara,
menatap punggung biru yang hilang dibalik pintu.
Berkubang dalam lumpur rasa.

Desir waktu membantu.
Gema suci jadi obat rindu.
Tepat ketika baris merah singgah sebagai tamu.

Ia datang atas nama suka cita.
Keranjang tawa dalam sebuah hangat kaca.
Kilat jenaka yang masih tawarkan neon senja.
Transformasikan lilin teduhnya yang cukup tak terduga
Kejutan pun menganga di balik filosofi pelindung kepala,
pada sebuah senyum renta.

Perisai itu masih menjulang.
Sematkan senyum teduh di balik kokohnya.
Meski setia dengan daya magisnya.
Porakporandakan rasa yang berhamburan bersama angin musim dingin.

Aku termenung pada sebuah beludru putih.
Badai itu belum sepenuhnya pergi,
sisakan cangkang telur yang menganga terbuka.

Lantas, apa makna dari rasa?

Detik jungkir balik dalam sebuah pesawat tangkas.
Cinta yang berserakan terbawa gelombang.
Senyum yang membawa makna baru.
Serbuk bunga yang luberkan es.
Lingkaran yang sama.

Lantas, apa makna dari rasa?

Best regards,

Pita Hujan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s