prosa · Uncategorized

Sebuah Prosa untuk Hama Berantena

Hari ini aku tertarik dengan kilau jingga yang membungkus si gadis riang. Gadis itu hinggap di sebuah sofa jelly, lengkap dengan penghangat telinga. Ia terlihat melantunkan mantra dalam bahasa antah berantah, hingga dahiku mengernyit. Ah, aku lupa. Semua metafora manusia benar-benar membuatku lupa jati diri. Aku tidak punya dahi. Mungkin kau bisa menyebutnya antena?

Ya, antenaku bergerak-gerak antusias. Ingin bercengkrama dengan aksara yang dinyanyikannya.

Kau tahu? Aku baru saja akan bergerak. Membelah sinar putih dengan gaya baru yang aku usung dari televisi lokal. Kuberitahu, aktor itu meliukkan tubuh seperti kobra handal. Katanya gaya baru untuk si pemuja milenia. Memancing tawa dari para peserta yang dahaga akan jenaka. Kupikir mengimitasi sang aktor bukanlah dosa. Aku akan mencobanya di sebuah bilik ceria.

Rupanya aku memang payah dalam manajemen koordinasi. Sayapku patah-patah mengiris udara. Aku bisa mendengar rintih berirama dari gesekan benda usang ini. Ah, sayapku memang harus segera dilelang. Mungkin saja bisa jadi biaya nutrisi untuk telur-telurku. Syukur-syukur bisa tukar tambah.

Mulut tak tahu diri ini terlalu cepat merayakan kemenangan. Mungkin bisa diterjemahkan menjadi HORE!, saat aku menebas tuntas ruangan dengan kepak sayap. Lima meter dalam lima puluh kepakan! Kakiku menancap mulus di sebuah kain merah. Dua meter dari si gadis Jingga. Ah, aku ingin segera berjingkat ria dengannya. Berkelit dengan aksaranya yang membuat kepul di kepalaku tak kunjung sirna.

Eh? Tunggu. Kenapa si gadis jingga lari?

Aku sudah mencapai sebuah prestasi namun harga belum jadi tuan. Si aktris utama malah kabur dengan lengking  seriosa. Ah, jangan berprasangka buruk dulu. Mungkin ia ingin mengenalkanku dengan sahabatnya? Bisa jadi. Aku jadi menyesal melupakan si Mpok Made. Benda menjulang di kepalaku jadi kurang bercahaya.

Kan, betul. Ia membawa pangeran kegelapan dengan sebuah tabung. Mungkin ini hanya konser semalam. Tapi kenapa desain mikrofonnya berbeda? Apakah mereka belum ketuk palu dengan asosiasi? Oh, moncongnya menghadap kepadaku! Apakah ia ingin mendengar sebongkah melodi dariku? Oh hoho. Suaraku mahal! Eh, tapi, enaknya nyanyi apa ya?

Hanya satu lagu yang bercokol saat ini. Lado.. bal.. Lado..

Namun aneh. Alih-alih menjadikanku raksasa, aku terperangkap dalam sebuah ledakan asap. Putih. Darimana mereka tahu warna kesukaanku? Ah, aku tahu! Rupanya mereka ingin bercanda. Aku juga ingin bersenang-senang! Ajak aku main lompat  tali!

T-Tapi.. kenapa kaki kebanggaanku ini berguncang hebat? Kanebo menyumpal si kepala kedua tanpa ampun. Asam pahit yang tak terdeteksi berjejalan masuk ke dalam tubuh. Memporakporandakan sistem nalarku hingga aku kejang-kejang. Aku sudah lama tidak melakukan ini, tapi lebih baik aku berbaring. Terlentang memberikan efek relaksasi hama yang katanya bermanfaat.

Nah, benarkan? Aku bahkan bisa melihat si aktor kobra membuaiku dengan senyuman. Ia berkata, “Tenanglah, semua akan baik-baik saja.” Ia memberikan senyum sejuta dolarnya dengan cuma-cuma. Bahkan sambalado kehilangan otoritas pedasnya. Dunia apa ini? Kenapa semuanya begitu indah? Ah, ternyata tak selamanya pangeran kegelapan mengusung kriminalitas. Ia pria katun hitam paling baik yang pernah kukenal.

Mata pun terpagar rapi. Penat, harapan, usaha, dan sayap patahku menguar pelan, high five dengan semesta. Hanya satu ingatan yang tertinggal. Suara seruling si gadis Jingga yang menutur takut-takut.

“Kecoaknya udah disemprot?”

“Udah.”

***

 

Pita Hujan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s