Boku no Sekai · Islam: Dakwah Ringan

Bisa dibilang Ini Filosofi Sendiri

How much of you avoiding to be alone? Aku rasa pasti semua sama, ya. Tidak ada yang ingin sendiri di dunia ini. Karena itu aku sangat terpikat dengan cara orang mengungkapkan arti cinta, kesendirian, dan kebersamaan dalam sebuah kamus tanpa batas. Semua punya definisi cinta masing-masing. Entah itu cara untuk ungkapkan rasa yang merayap di hati, jabarkan keindahan seseorang yang kian mengusik diri, atau bahkan cuma untuk tumpahkan konotasi negatif: meratapi dan mengutuk kesendirian. Karena cinta. Asek.

Sudah tidak terhitung pujangga yang menyingkirkan ‘sendiri’ dari hidup mereka. Seolah kata itu adalah hal tabu yang tidak masuk dalam kalkulasi. Tidak ada yang mau sendiri. Semua orang berusaha melebur dengan kata, canda, meski itu hanya untuk mengisi hampa. Membunuh aliran waktu. Mencoba melesak dari dalam bumi, susah payah mendeklarasikan eksistensi diri. Padahal, ketika kita sendiri, ada anugerah tak terbatas yang bisa kita kunyah. Dan mungkin hanya sedikit yang menyadari betapa membisu itu anugerah. Seperti lirik dalam lagu favoritku,’ Hujan dalam Mimpi’ oleh Banda Neira.

Membisu itu anugerah.

How to deal with solitude.

Sebenarnya jika kita mau tu’maninah dalam kesendirian, banyak sekali yang bisa dilakukan. Kesendirian memberikan kita lini masa untuk menjalin komunikasi dengan Allah SWT. Bermesraan dengan sang Pencipta yang merangkai kesempurnaan dalam tubuh kita. Meminta petunjuk lewat tutur kata yang hanya diterbangkan pada-Nya. Atau hanya sekedar bercengkrama lewat rasa syukur dan obrolan tanpa makna yang menenangkan hati.

But somehow itu sering terlewatkan oleh kita bukan?

Kita cenderung mencari kemilau. Mencari cahaya semu yang belum tentu jadi lentera saat kita benar-benar membutuhkan nanti. Saat hitam menyergap. Saat kita bersatu dengan tanah. Kesendirian memberikan relaksasi yang lebih ampuh dari lagu klasik manapun. Not to mention Al Quran. Suara Al-Quran yang terselip di telinga memberi percik embun laksana panah. Langsung menancap di hati dengan segala kesederhanaannya. Yang insyaAllah menjadi cahaya benderang bagi kita saat terbaring di tanah nanti.

Dan ya. Al-Quran adalah cahaya absolut dari Sang Cahaya Sejati.

Sharing Stories with friends is better than Allah? Really?

Kadang aku memperhatikan persahabatan di sekelilingku. Everybody always has some stories to tell. Aku pun termasuk begitu. Namun di sela sedu sedan cerita, alhamdulillah aku diberi kesempatan untuk observasi. Menggunakan mata dan hati untuk mengamati hal yang selama ini menjadi bahan bakarku dalam hidup. Curhat.

Hehe. Yes, aku sangat terbuka pada banyak orang. Aku senang berbagi cerita pada siapa saja yang datang padaku. Mereka pun dengan baik hati menuturkan cerita hidupnya. Membuka mataku akan banyak hal yang selama ini belum pernah mampir dalam hidupku.

Hanya saja, setiap orang menyimpan ego dan penilaiannya masing-masing.

Menurutku, manusia diciptakan dengan dua sisi cermin yang berbeda. Aku pernah bertemu dengan orang yang cukup bijak dalam memberi solusi pada orang lain. Sebut saja orang lain itu Mawar. Namun sayang, ia membagi cerita Mawar pada orang lain lagi. Lengkap dengan penilaian yang tidak ia ungkapkan di depan Mawar. Ya, penilaian negatif. Aku  bertanya-tanya dalam hati, apakah aku juga pernah begitu terhadap mawar-mawar lainnya? Astaghfirullah.

Bahkan ada yang menebar cerita seseorang hanya untuk jadi bahan tertawaan saat temu sosial berlangsung.

Yap. Hal itu memang ada. Dan itu membuatku berpikir ulang.

Aku memang memiliki prinsip, sekali aku berbagi pada seseorang, berarti aku harus siap dengan konsekuensinya. Konsekuensi ceritaku akan dibagi juga pada orang lain. Lengkap dengan distorsi tak terprediksi yang mungkin saja membuatku terlihat menjadi lebih buruk. Kadang orang yang berpotensi menyakiti diri kita adalah orang terdekat bukan?

But, that’s life isn’t it? Aku tidak bisa meratapi sesuatu yang sudah bukan tanggung jawabku. Saat rumor berpantulan dari mulut ke mulut pun sesungguhnya kita sudah lepas tangan. Aku hanya bisa memohon ampun atas keabsurdan lidah. Karena itu aku sangat sadar akan kepentingan curhat pada Allah SWT. Allah SWT adalah Penjaga Rahasia paling baik yang pernah kukenal. Tidak ada satupun rahasia yang lepas dari genggaman-Nya.

Lagipula, siapa lagi yang lebih baik dari Allah SWT? Seluruh alam semesta hingga dunia langit ada di genggaman-Nya. Semut yang merayap dalam pekat pun tak luput dari pengetahuan-Nya. Dan dia sebaik-baik Pemilik Jawaban. Allah yang tahu apakah orang yang kita taksir, naksir juga sama kita, atau ngga? Allah yang paling tahu masa depan kita. Allah juga yang paling tahu mana yang benar-benar baik, mana yang mendekatimu cuma karena KEPO. Jiko manzoku. Self satisfaction karena udah tahu rahasia orang.

That’s why I encourage you to tell more stories to Allah SWT. Ichi nichi Ichi jikan dake de ii da to omou. Sehari cukup satu jam aja. Kalau mau lebih malah lebih bagus. That’s the most blissful solitude I’ve ever known in this universe. Kesendirian yang paling baik.

Karena, hal yang sudah pasti bukan jodoh. Tapi berkumpul kembali dengan tanah.

Because it’s the origin of us, isn’t it? Tanah.

Best regards

Pita Hujan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s