Boku no Sekai · prosa · Uncategorized

Uraian Jenaka atas Komunikasi Sederhana

Aku masih belum bisa menyingkirkan hobiku menyelupkan kepala ke dalam kuali ingatan. Terpekur di tempat sepi, hingga aku merantau ke labirin kenangan. Aku tidak berbicara tentang kenangan spesifik yang membuat hati nyut-nyutan. Hanya sekedar trivia-trivia yang membuat tungku hatiku menghangat. Yakni saat Allah SWT berbicara padaku dengan cara-Nya.

Allah SWT selalu memberikan jawaban atas pertanyaan yang loncat di kepalaku. Entah itu secara langsung, lima menit kemudian, atau bahkan satu tahun kemudian. Ia menggerakkan tuas jiwaku dengan cara yang tidak disangka-sangka.

Saat aku penasaran dengan misteri angka dalam al-quran, dan berjingkat riang dalam diam, Allah menggulung petir di langit selatan. Pelan, namun jenaka.

Saat alam bawah sadarku mengutuk sesuatu yang tidak sesuai, aku selalu terantuk sesuatu. Entah beradu dengan helm yang keras, atau tersandung meja besi yang naudzubillah ‘berasa’.

Atau Ketika motor yang kami tumpangi berkelit gesit, nyaris mengecup penghuni jalan lain.

Saat egoku berteriak, ‘Aku ingin bekerja di perusahaan Jepang!” dan terjawab dua bulan kemudian. Aku bekerja di perusahaan Jepang yang cukup baik hati.

Atau bahkan, contoh yang cukup ekstrim: jawaban atas doaku saat aku dijauhkan dengan pria itu. Egoku terlalu bengkak untuk terima kenyataan, saat jarak membelahku dengannya. Aku baru bertemu dengan jawaban itu kira-kira tujuh bulan kemudian, lengkap dengan sebuah pengakuan seseorang. Bahwa betapa luar biasa negatifnya orang itu. Sebelum kenyataan terjawab, logikaku mandek, hatiku terus berputar dalam kumparan yang sama. Berkecipak dalam rasa yang mungkin bagi Allah SWT itu mustahil. Padahal doaku sangat sederhana: jika baik, tolong dekatkan. Jika buruk, tolong jauhkan.

Dan aku diterpa jarak olehnya. Dengan jackpot cibiran yang tak kunjung usai. Ya. Allah memang tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya.

Yah, akhirnya bicara juga tentang hal yang bikin hati nyut-nyutan. Sumimasen, ne~

Atau contoh yang cukup lucu, saat aku tersungkur dalam sujud terakhir di waktu Zuhur. Aku menyebut spesifik nama agar ia menyukaiku. Yah, impian seorang anak kecil berseragam putih biru. Sebut saja pria itu mawar. Eh, cewek ya jadinya? Ganti deh. Galih. Waktu itu ada dua Galih di sekolahku, dan aku berbicara tentang Galih A. Namun kemudian, ada yang aneh dengan gelagat Galih B. Entahlah, intuisiku mengatakan, ia yang menyukaiku. Haha. Intuisi Gede Rasa.

Ya, meski berakhir tanpa makna pada kedua Galih, namun aku menikmati komunikasinya. Aku menikmati magisnya. Saat aku berucap sesuatu, Allah SWT selalu menjawab dengan caranya yang sederhana.

Aku pun sulit menemukan kata yang pas untuk penutup tulisan ini. Mungkin hanya sedikit saran dan kata-kata biasa. Nikmati komunikasi bersama-Nya selagi bisa. Selagi masih ada sisa lembar dalam perjalanan hidupmu. Libatkan Allah SWT dalam segala kondisi hidupmu. Mau jatuh, mau bangun, mau lebur, mau gembira, mau sederhana. Allah paling dekat dengan kita. Bahkan lebih erat dari dekapan bantalmu di malam hari saat rindu hinggap di hati.

Eit, jangan mikir macem-macem. Rindu hanya untuk Allah SWT lho. Tidak ada yang lain. Tapi, yah.. Rindu pada jodoh boleh juga. :p

Well, Have a nice communication! 😀

Best regards

Pita Hujan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s