prosa

Dokumentasi Hitam Putih Aurora

Wahai Pemilik Kasih Sayang.
Kecipak lumpur pernah terlukis di gaunku.
Saat aku terkepung dalam tawa fatamorgana
Aku peluk tiap lagu hati saat ia menyapa mata.
Ratusan perahu doa membawa anganku bersama siluetnya.
Terombang-ambing dengan kepul udara.
Atas restu-Mu.

Panglima Alam Semesta yang Maha Mulia,
Sempit sempat menghimpit, saat anganku patah.
Aku bertransformasi menjadi si bingung yang mengutuk langit utara.
Meski masih terselip di alam sadarku,
tiap penggal aksara yang aku terbangkan padaMu.

Jika baik, maka dekatkanlah.
Jika buruk, maka jauhkanlah.

Kau tak pernah salah,
Seperti setangkai kembang gula dan sepucuk anggur di sebuah mangkuk kaca.
Aku masih betah berpagar kacamata yang sama.
Mencoba jodohkan ego dengan permen layu yang tercolek hujan asam.
Meski mutiara ungu itu masih duduk kalem, menatapku.
Menunggu.

Namun gulali kadaluarsa pun tak bisa selamanya berbohong.
Sisakan oksitosin artifisial yang berceceran.
Gembungkan hati dengan rasa syukur,
saat kain lusuh lunturkan lendir dalam cangkang telur.

Aku tersenyum.
Sejak sawah bintang berpijar terang di mata kecilku,
Kau tidak pernah salah menjawab doa.
Meski hanya sekedar layarkan sapa.
Seperti gulung petirMu yang berkerumun di payung biru selatan.
Saat aku temukan angka untuk sebuah misteri kitab.
Lengkap dengan kepala merahnya yang berkelahi dengan udara.

Kepala usang inipun seolah kehabisan kata.
untuk lestarikan budaya pujangga..

..hanya untuk-Mu.

Best regards

Pita Hujan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s