Uncategorized

Balada Petak Umpet Ego dan Rahasia. Main cast: Hati.

scan0005

Pada suatu hari di panas yang terik, Lidah main hom pim pah bersama Hati dan Kepala. Kepala ingin bermain petak umpet dengan rahasia. Mencoba sisipkan selembar lima puluh ribu pada Lidah yang masih menanjak stabil di jajaran harga pasar malam. Ia mengirim titah untuk memberi topeng pada sang Kebenaran. Kebenaran yang hingga saat ini masih menyerah dengan lekuk tubuh rahasia.

Kebenaran tercekik sepi. Apalagi Lidah di department store lain ikut meniupkan suara sumbang. Katanya Kebenaran hanya akan tawarkan pahit. Kebenaran sebagai nilai-nilai terdahulu sudah lenyap terperangkap kabut
warna warni masyarakat kota.

Kebenaran menghela nafas. Ia alirkan tanya yang bermuara pada sang Hati.

‘Hei Hati yang selembut beludru. Bisa tolong definisikan saya?’ suara serak mengalir dari tenggorokan sang Kebenaran.

‘Saya terjebak antara topeng berkarat dan lidah-lidah angkuh yang masih setia berkelit di tengah kaburnya nurani ibu kota. Sesungguhnya saya hanya butuh teman. Teman berbagi udara atas beban yang tersangkut.
Wahai, hati. Bisa minta tolong? Kalau bisa beli vacuum cleaner teknologi robotik. Agar serbuk laba-laba yang berkeliaran di Kepala dan Lidah terkikis habis. Sisakan ruang kosong yang lapang dengan rumput membelai angin.’

Hati melempar tatap belas kasihan pada Kebenaran yang masih dalam kendali Lidah. Sebenarnya ia sudah lama mencari cara untuk berdiskusi dengan Lidah dan Kepala. Coba kempiskan ego mereka hanya dengan bertemankan sunyi. Berharap sang Lidah sadar diri agar otot dalam tubuhnya yang meliuk-liuk itu kini mulai melemas. Hati jadi ingin alirkan sedikit teh manis untuk Kebenaran yang butuh kawan.

Akhirnya, dengan keberanian yang didukung oleh kuasa langit, Hati mencoba untuk renggangkan persendian, dan ajak Lidah berdiskusi.

‘Hai, Lidah. Sebenarnya saya mau ngomong ini sejak lama.’ Hati mulai berbicara dengan satu helaan nafas. Ia tidak menyangka, ternyata menyusun serpihan kognitif yang berserakan menjadi satu bongkah kalimat lurus tidak begitu sulit. ‘Apakah kamu punya belas kasihan?’

Lidah menatap Hati dengan mata defensif, tidak menyangka ada yang memberi panah tajam yang tepat sasaran pada tubuhnya yang menua.

‘Maksudnya apa?’ Katanya dengan pandangan yang sulit diprediksikan.

‘Coba sini, saya beri tahu kamu.’ ujar Hati dengan nada satu tambah satu sama dengan dua. ‘Kamu tidak melihat si Kebenaran lagi menangis di pojokan? Kenapa hanya dengan lima puluh ribu, kamu bersedia ikuti kepala yang bergelimang tahta dunia?’

Lidah menyeringai. Siratkan ejek yang seperti sengat lebah. ‘Kebenaran harus lihat realita. Fakta. Apa yang dibutuhkan masyarakat dunia. Dia kira dengan tubuhnya yang berpendar suci itu, dia bisa kuasai dunia? Dia harus bisa pragmatis untuk hidup. Untuk survive. Aku yang pegang kuasa di sini. Aku jadi kendali untuk hidup yang katanya bisa lebih baik.’

Hati menghela nafas. ‘Asal kamu ingat bahagia saja, Lidah.’

‘Bahagia? Coba sekarang definisikan bahagia.’ Lidah masih berkomplot dengan pandangan meremehkan.

‘Bahagia itu.. saat kamu berfungsi pada waktunya, dan kamu mengizinkan aku berpendar, Lidah.’ Kata sang hati dengan ketenangan yang seolah tanpa batas. ‘Aku jadi ikut terhimpit sebenarnya. Coba kamu izinkan kebenaran keluar dari penjara. Kasihan dia. Hanya bersinggungan dengan tempaan dinding semu tanpa kawan. Meringkuk di sudut dada. Bersyukur dia dekat denganku. Hingga ia bisa curhat panjang lebar tentang legenda angkuhmu, Lidah.’

Lidah merasa kocar-kacir. Dan Hati menangkap kegelisahan itu. Namun dengan tenang Hati masih terus bersenandung. ‘Coba kamu imajinasikan. Berapa banyak orang sengsara hanya dengan meniup balon ego? Lalu
dikaitkan pada tubuhmu yang kena kendali rapuh si balon? Melambai kiri kanan tanpa tujuan. Dengan angin kebohongan, gengsi, ejekan, senyum sinis, sumpah serapah, keluhan, sungut-sungut, dan berjuta angin absurd lainnya yang menampar-nampar. Kamu mau diatur sama benda tak berdaya dan bisa robek hanya dengan satu tusukan jarum?’

Lidah menahan udara sesak yang makin membombardir seluruh tubuhnya, sementara Kepala menyaksikan semua dengan pandangan bersalah.

‘Ada satu cara, lidah. Untuk keluar dari ini semua.’

Lidah mengeluarkan suara tanpa mengangkat bibir. ‘Apa itu?’

‘Ganti nama, sayang. Aku punya satu nama yang pas. Bagaimana kalau…Kejujuran? Kita bisa bermain bersama tanpa harus hom pim pah lagi. Coba kamu bayangkan. Kejujuran, Kebenaran, Hati, dan Kepala main petak umpet di padang rumput lapang dengan kupu-kupu berseliweran. Asyik nggak tuh?’

‘Kalau pandang rumput lapang kita mau ngumpet di mana? Mana ada tempat sembunyi.’ Lidah melepas tawa yang bisa dibilang hangat. Ekspresi ejekan yang biasa melekat seolah minggat sesaat dari sana.

‘Tuh kamu sudah bisa tertawa. Jujur akan kebenaran asyik kan?’ Hati nyengir lebar, menyaksikan Lidah yang kini menyiratkan ekspresi ‘iya juga ya’, meski masih terlumuri segelas gengsi.

Hati tersenyum geli.  ‘Udah lah. Nggak asik nih. 2015 masih aja gengsi. Aku sudah sablon satu kaos yang bertuliskan ‘Kejujuran’. Sebagai tanda kamu ganti nama, Lidah. Gimana? Kamu mau kan pake kaosnya?’

‘Emang bisa jamin kita bertahan hidup dengan kejujuran?’

InsyaAllah 100%!” kata Hati sambil menyurukkan jempol.

Segenggam gengsi masih menyelimuti pandang sang Lidah, meski akhirnya dengan tangan bergetar ia ambil kaos itu. Dan dipakainya perlahan.

Nyaman. Dengan balutan benang yang berikan rasa melayang seperti berbaring di kasur bulu. Kini ‘Kejujuran’ melekat di tubuh Lidah yang mulai rileks, berikan nuansa baru pada pandangnya yang kini mulai kena pendar neon. Semua mulai terlihat cerah.

‘Nah, main gih sama Kebenaran. Sudah saatnya Kebenaran dan Kejujuran bersatu. Jangan kalah sama Songohan & Trunks. Emang mereka doang yang bisa fusion?’

Lidah mendengus tawa. ‘Kamu gaul juga ya hati. Suka baca Dragon Ball ya?’

‘Gini-gini saya generasi 90-an.’ Ujar Hati sambil melempar cengir. ‘Udah sana. Main sama kebenaran. Kasihan dia. Sudah terlalu lama sendiri.’

Lidah tersenyum sesaat, melambaikan tangan sementara pada kepala yang lagi coba kontemplasi, dan mulai melesat menebas angin. Coba hampiri Kebenaran yang kini tersenyum menatap Hati.

Ternyata tidak semua mitos salah. Mitos ini selalu konsisten sampai akhir zaman.

Hati murni hanya bicara dua bahasa. Benar. dan Jujur.

 

Best Regards

Sindayu Annisa M

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s