prosa · Uncategorized

Aku Belum Shalat Maghrib

Hembus nafas alirkan lava di sela sedu sedan kereta.
Para serdadu kota yang alihkan penat dalam pantulan layar kaca.
Celupkan imajinasi ke dalam suara yang merayap di telinga.
Memalu udara dengan kepala kuningnya.
Mataku menyipit pelan, melebur bersama kubangan saliva dari seorang wanita paruh baya.

Aku melepas nafas. dan mengambilnya kembali.

Jingkat mutiara masih warnai pekat.
Raungkan tenaga sang percik cahaya yang menggelegar.
Darah pecah. Erang membeku di udara.
Longitudinal pun retak. Berhamburan dengan tenor dan air mata.

Aku melepas nafas. dan mengambilnya kembali.

Mata merampas pandang ragu.
Kepala kuning kini berenang dalam lautan saliva.
Bibir siulkan tawa dengan si rambut ikal nutella.
Wanita paruh baya kini menyumpal telinga.
Mematuhi jadwalnya dalam memalu udara.
Layar kaca pun masih bergerombol dalam hitam malam.

Aku melepas nafas. dan mengambilnya kembali.

Ah. Aku belum sholat maghrib

Best regards

Pita Hujan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s