Boku no Sekai · Uncategorized

Seni Bersyukur yang Lembutkan Hati

Dear percik kebahagiaan

Ada satu teori yang selalu saya cenderung lupakan. Teori untuk selalu bersyukur atas apa yang kita punya di dunia ini. Padahal saya menuliskannya di post it di meja kerja saya. ‘Bersyukur’ dapat ruang paling lega dibanding kata magis lainnya. Itu adalah definisi yang masih saya maknai hingga saat ini saya bernafas. Saya bahkan pernah menuliskan 10 daftar yang harus saya syukuri setiap hari. Yang sayangnya frekuensinya semakin berkurang lantaran distraksi alam pikir yang begitu kuat. Jika saya tilik ke belakang, menganalisa, dan memaknai segala kejadian, sebenarnya dalam meniti kehidupan semuanya cukup sederhana. Mengutip kata yang saya baca dari buku Desi Anwar, (hidup sederhana) bahwa kebahagiaan itu meliputi kata menginginkan, menikmati, dan mengapresiasi apa yang sudah kita miliki.

Setiap hari jika kita mau didaftar apa saja hal membahagiakan yang luput dari perhatian kita, mungkin jaraknya bisa dari Pamulang ke Monas. Banyak sekali. Kenikmatan ketika kita memiliki air bersih. Kenikmatan ketika tangan masih diberi kesempatan untuk mengetik dan bercerita di blog tercinta ini. Kenikmatan ketika kita masih dikaruniai jiwa-jiwa indah yang mau mendengarkan keluh kesah kita. Kenikmatan kita berpakaian. Kenikmatan kita bisa memakai alas kaki. Kenikmatan bisa berbicara. Kenikmatan masih bisa menyayangi teman-teman dan keluarga. Tuh kan. Banyak sekali jika mau didaftar. ^^

Bukan hanya kebahagiaan saja. Bahkan cobaan yang sering kita anggap mengiris hati, tenaga, raga, pikiran, dan jiwa sekalipun patut kita syukuri. Ketika kita belum bisa mencapai belahan dunia lain yang ingin kita datangi, kita jadi kesal. Kita terus usaha. Kita memiliki energi berlebih untuk terus mencapai tujuan itu. Titik syukurnya adalah, kita jadi manusia yang masih punya ikhtiar. Kita jadi manusia yang memiliki keyakinan. Kita jadi manusia yang percaya bahwa kekuatan besar di luar kemampuan kita akan mengulurkan tangannya. Dan kita jadi lebih mendekatkan diri pada Tuhan.

Hal yang saya sayangkan dari itu semua adalah ketika orang yang sudah mendapatkan hal yang mereka inginkan, malah dilepas ketika keadaan sudah di luar ekspektasi. Kita sudah usaha keras untuk mencapai belahan dunia tersebut. Tapi ketika budaya dan kebiasaan mereka jauh berbeda dengan kita, dan kita ditempa cobaan terus menerus, kita lupa. Kita ingin menggeliat lepas dari kungkungan. Kita tidak mau terpasung. Padahal jika kita mau berpikir tenang, pasung yang ada pun itu tercipta dari pikiran kita sendiri. Dan pasung semu itu seharusnya memberikan kita waktu untuk merenung. Ketika kita jauh dari keluarga, sanak saudara, sahabat-sahabat dekat, yang terjadi adalah keheningan dalam kesendirian. Keleluasaan waktu untuk berpikir dan menganalisa. Kenapa terjadi bentur budaya? Kenapa saya ingin pulang? Kenapa saya tidak bisa bersabar? Dan di dalam kesendirian itu, berkomunikasi dengan diri sendiri dan Tuhan jadi bisa lebih mesra. Kita bisa merasakan kesedihan dalam kesepian yang indah. Karena di saat kesendirian itu, sebenarnya kita jadi lebih merasakan eksistensi diri sendiri. Merasakan eksistensi Tuhan. Dan ketika sedih mulai menelusup jinak ke dalam dada, kita bisa merasakan udara lembut yang memijat hati. Cahaya redup yang tenangkan hati. Dan di saat itu kita akan merasa lebih menyayangi keberadaan diri.

Mungkin saat ini hal tersebut cukup sulit ditemukan dengan beragam aktivitas yang menelan hari. Terkadang kesibukan memangkas habis kesempatan kita untuk bermesraan kepada diri sendiri. Kita cenderung mengurus kepentingan pekerjaan, sekolah, dan orang lain ketimbang mendengar jeritan hati untuk istirahat dan refleksi diri. Menyisihkan waktu sejenak untuk istirahat pun sangat baik untuk relaksasi pikiran, jiwa, dan raga. Sisakan waktu khusus untuk diri Anda sendiri untuk mensyukuri eksistensi diri. Berilah penghargaan pada diri sendiri dan rasakan sejuknya nikmat syukur bahwa Anda ADA.

Saya sendiri pun masih mencoba mendalami ilmu bersyukur. Merasakan per nikmat yang Allah SWT berikan pada saya. Memaknai kejadian hidup yang akhirnya bermuara pada rasa syukur yang memberi embun di hati. Nikmat bisa bekerja, nikmat bisa melihat orang-orang tersayang bahagia, nikmat bisa melihat orang yang dicintai sehat dan tertawa renyah. Mengingat itu semua hati menjadi damai. Seketika tikus-tikus yang menggerogoti hati saya mundur teratur. Alhamdulillah.

Semoga dengan tulisan ini pun bisa menjadi pengingat bagi saya bahwa ini adalah alarm baik hati yang akan selalu menyentil saya untuk berterima kasih pada Sang Pemberi Kehidupan.

Dan semoga ini baik untukmu juga ^^

Super Best Regards

Sindayu Annisa M

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s