Uncategorized

Semesta Dunia Bebas

tenggelem

Sebenarnya, dari awal pun tidak ada yang permanen di sebelah kita. Seberapa sering manusia bersama, berbagi cerita, mengapungkan tawa bersama, atau hanya sekedar menguarkan pandangan kosong sambil menatap langit dan berbicara mimpi-mimpi. Pada akhirnya semua akan jalan sendiri-sendiri. Bahkan saat kita terbujur lelah di atas kasur, penat dibungkus oleh aktivitas sehari-hari. Kita pun tidur sendiri. Bangun sendiri. Merenung sendiri. Dan meninggal sendiri. Hanya saja, berbagai pikiran kognitif selalu hadir saat sepi menyergap. Dan dalam kasusku, aku mungkin terlalu overdosis dalam berpikir.

Aku pernah hidup di zaman manis yang terakhir kali kuingat, mereka masih dengan baik hati tersenyum padaku. Memanggilku dengan panggilan ceria, dan memberiku sofa kenyamanan yang masih aku rindukan. Aku dibesarkan dengan tata krama akan pentingnya pamit, kata-kata, penjelasan, unggah-ungguh jawa yang –katanya- seharusnya ada dalam diri manusia. Dan aku tumbuh bersamaan dengan senandung dari wanita tengah baya cantik yang selalu mengutarakan idealismenya mengenai hubungan sosial antar manusia. Meski aku sendiri mengerti teori tentang ‘tidak semua manusia sama’, namun mau tak mau gagasan itu –tanpa sadar- ikut mengalir dalam pembuluh darahku.

Karena itu.. saat seseorang pergi tanpa kata, aku hanya bisa terkejut. Dan mungkin terkunci dalam diam.

Dia masuk dengan matanya yang dalam. Dengan definisi koneksi yang katanya menyatukan semesta kami. Menyatukan benang merah kami yang dihubungkan oleh sebuah kantor yang masih dalam pencarian jati diri. Hari pun dilalui dengan tawa, cerita, dan dengan baik hati ia selalu mendengarkan keluh kesah tentang pria berkacamata yang sempat hadir dalam semestaku. Dan dengan upaya keras oleh ingatanku yang mulai bertambah umur, terakhir kali kami bertukar kata, tidak ada keluh kesah. Tidak ada nestapa. Tidak ada mata yang merunduk. Bahkan dengan mata menerawang polos ia berkata, “Kalau dipikir-pikir, banyak hal yang kita lalui bersama, ya.”

Lalu, puff. Dia hilang tanpa kata.

Ralat. Mungkin dengan beberapa kata. Dan mata. Hal terakhir yang aku ingat, dia memasang tawa sedikit mencemooh mengenai beberapa hal. Hal yang ingin aku enyahkan dari kepala. Hal yang ingin aku benam dalam-dalam di tanah dengan gembok brankas termutakhir yang pernah diciptakan manusia. Dan dia mengatakannya dengan lancar. Dengan bonus sorot mata dari kejauhan, bersamaan dengan tawa puas dari seseorang prinsipil yang hingga saat ini aku masih menyangka dia baik hati.

Sempat ada beberapa tanya yang hinggap di kepala.

Apakah nasibku juga sama dengan gadis pipi roti yang dulu sempat ia bahas dalam diskusi mininya? Semua rahasia dan aib tergelar lebar dengan orang yang bersangkutan?

Entahlah. Aku belum tahu. Hanya saja, dia pernah jadi orang yang amat sangat aku percaya. Memikirkan prasangka-prasangka semu yang tenggelam dalam ketidaktahuan membuat hati meringkuk di sudut paling sempit dengan sedikit udara. Membungkuk. Meratap. Melihat reruntuhan kepercayaan yang berbaring tak berdaya di atas tanah. 

Meskipun aku bukan orang suci, aku masih ingin menumbuhkan bunga dalam kepala. Mengalirkan embun dalam hati. Ingin memejam. Ingin tenang. Dan Aku ingin mengerti kondisi seseorang. Saat ia dibelenggu oleh tugas barunya yang membutuhkan skill ekstra. Saat ia memang ingin tertawa dengan orang lain. Dan saat ia memang ingin berkelit tanpa kata.

Aku hanya butuh kedamaian. Aku butuh untuk tidak melihat seringai di matanya lagi. Meski seringai itu hadir dalam bentuk hitam putih dalam nuansa pikiran.

Tapi hanya satu teori yang hingga saat ini memberi ruang lega di hatiku. Harapan bahwa saat aku terbujur kaku dan terbungkus hitam temporer hingga padang luas tempat aku membaca riwayat hidupku nanti datang, aku masih bisa menyenandungkan laut tenang.

Best Regards

Pita Hujan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s