Uncategorized

Menapaki Undakan Abu-abu

Muram masih terbungkus dalam sebuah bola mata saat layar datar itu memancarkan cahaya remang.
Mencoba menganalisa lahan kosong yang masih terhias reruntuhan kata.
Sebenarnya hanya bergulat dengan tanda tanya.
Kemana hijrahnya lelampuan dengan pendar hiruk pikuk itu?
Bahkan berkas cahaya yang dulu sempat bercokol lama di ufuk dada sudah minggat tanpa bekas.
Saat bebungaan musim gugur tumbuh.
Dedaunan musim panas sudah pergi tanpa tata krama.
Apakah keindahan yang pedih ini nanti juga akan pergi?
Lantas, apa makna dari rasa?

Aku tidak mau jadi pembantah.
Namun urgensi untuk mengadu dan meluapkan semua sampah hati sedang pasang.
Aku tahu Kau sebaik-baik Pemilik mangkuk kaca.
Namun bolehkan aku penuhi urat nadi ini dengan bongkah debu yang bahkan hancur dengan satu jentikan?

Aku tidak mau jadi pembantah.
Aku hanya rindu bercerita.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s