Boku no Sekai · Uncategorized

Kekuatan Tanda Tanya atas Penilaian

Sebagai manusia, kita tidak bisa lepas dari pikiran sendiri. Ketika seorang nenek lewat dengan pakaiannya yang serba nyentrik, berbagai pikiran berkelebat di kepala kita. Ada yang menilai buruk. Ada yang menilai baik. Ada juga yang langsung mewujudkannya dalam tindakan: tertawa, geleng-geleng kepala, tersenyum kecil, atau bahkan langsung memalingkan muka. Semua berawal dari penilaian.

Ini hanya berawal dari pemikiran saya saja. Saya pun juga orang yang tak luput dari penilaian. Ketika saya melihat seseorang pertama kali, pikiran saya pasti langsung bekerja. Mbak-mbak dengan hak tinggi naik kereta: wah, pasti dia orang yang tangguh dan ingin selalu terlihat cantik. Pemimpin yang suka melempar kata-kata pedas: mungkin orang tersebut gila kuasa. Atau ingin mendidik kita dengan cara keras dan disiplin? Orang yang suka bercanda soal sex dan memandang orang lain dengan tatapan sinis: oke. Mungkin yang ini kurang baik untuk tumbuh kembang otak saya.

Tentunya sebagai manusia kita terus-menerus akan membuat penilaian, sesuai dengan referensi kehidupan kita. Penilaian itu sendiri menurut saya tidak masalah. Tidak menyalahkan hati dan pikiran juga karena dua semesta itu akan terus bersinergi mencari penilaian akan segala sesuatu. Yang nantinya akan menjadi masalah adalah, ketika kita menganggap bahwa kepala kita sendiri yang paling benar, tanpa mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan lain.

Tanya dulu sebelum menilai

Setiap kejadian pasti bermula dari alasan. Ada bermilyar alasan dan latar belakang atas terjadinya sesuatu. Ketika seseorang bersikap kurang menyenangkan terhadap kita, mungkin saja ia sedang ada masalah di rumah. Ketika Bos membentak bawahannya, mungkin saja bawahannya sudah kelewat batas. Ketika Mbak-mbak tadi ingin memakai sepatu hak tinggi, mungkin saja ia ingin terlihat lebih tinggi karena ia sering diejek pendek.

Ini tidak berarti saya membenarkan alasan. Yang perlu kita pelajari dan telusuri adalah akar dari permasalahan. Inti dari sebuah tindakan. Karena suatu kejadian di masa lalu yang begitu membekas, menuntun orang tersebut untuk melakukan suatu hal. Secara alam bawah sadar, atau secara sadar total.

Bertanya terlebih dahulu terhadap orang sangat dianjurkan agar tidak timbul prasangka. Tanya dengan tingkat perhatian wajar dan kepedulian tinggi. Tentu saja dengan intonasi yang tidak menuntut agar orang tidak merasa sesak oleh tanda tanya. Beri mereka ruang untuk bernafas.

Dengan intonasi dan sikap bertanya yang baik, bisa meyakinkan ia bahwa tujuan kita bertanya bukan untuk kepo (ingin sekedar tahu). Tapi untuk memastikan. Untuk konfirmasi. Apakah benar apa yang ada di kepala kita sesuai dengan alasan yang diutarakan. Jika kita sudah tahu alasan dibalik kejadian, kita bisa menilai dengan lebih jernih. Memandang dengan hati-hati. Menggantung papan “semoga bijaksana” di hati kita. Dengan begitu kita pun bisa mengutarakan pendapat kita dengan hati-hati. Perlahan. Agar orang tersebut juga tahu maksud kita. Agar ketidaknyamanan yang ada bisa cair dengan bertukar semesta pikiran. Karena itu komunikasi yang berkualitas sangat penting agar tidak terjadi kesalahpahaman dan prasangka yang bisa jadi momok dalam hubungan antar manusia.

Penilaian ada benarnya? Bisa jadi.

Ketika kita memposisikan diri sebagai orang yang dinilai, rasa tidak nyaman, offended, atau ingin mengenyahkan sang penilai dari hadapan kita tentu saja terkadang muncul. Hantaman tiba-tiba terkadang membuat pikiran kita menjadi kurang jernih, hingga bias yang keluar bisa macam-macam. Namun jika kita mau ekspansi hati lagi. Membuka lebar pintu semesta untuk mempersilahkan masuk sang nilai tersebut, bisa jadi ada benarnya.

Manusia diciptakan memang untuk hidup bersama. Untuk saling mengingatkan. Terkadang kesalahan yang kita buat sendiri hanya bisa terlihat oleh orang lain. Pernah dengar pepatah “Gajah di pelupuk mata tidak terlihat tapi semut di seberang lautan terlihat?”. Kebanyakan memang seperti itulah yang terjadi. Sulit untuk mendeteksi titik noda di baju bagian belakang. Tapi jika ada orang lain yang mengingatkan dari belakang, maka kita akan sangat terbantu.

Rendahkan hati kita untuk menerima kesalahan sendiri, dan bukalah hati kita selebar-lebarnya untuk segala alasan di balik kejadian. Jika kata sederhananya, “Ada hikmah dibalik setiap kejadian”, mungkin bahasa yang saya untai sendiri adalah, “Ada keindahan dibalik sebuah tindakan, perilaku, dan alasan”

Semoga kita terus belajar, sahabat. Manusia akan terperangkap di lubang gelap jika tidak membuka hati untuk mempelajari hal baru. ^^

Best Regards

Sindayu Annisa M

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s