Boku no Sekai

Mungkin Tertawa Solusinya

laughing-child

Di suatu ketika saya dapat kesempatan untuk berbicara dengan salah seorang Sahabat. Kami jarang sekali berbicara lama di suatu periode, namun saya sudah lama ingin berkecimpung di samudranya yang unik. Mungkin waktunya yang tidak ada. Mungkin saya yang terlalu sibuk main lompat tali di taman bermain saya. Mungkin memang timing yang disediakan Tuhan belum pas dan hanya hari itu kami sempat berbicara untuk satuan waktu yang cukup lama. Sekitar 15 menit. Dan itu sudah cukup membuat dunia saya rileks akan tawa.

Ada satu kalimat terlontar yang membuat hati saya hangat. “Anin, kenapa sih lo selalu ketawa? Padahal nggak semua yang lo tertawakan itu lucu. Lo tertawa akan hal-hal kecil yang bahkan jauh dari lucu. Dan lo seperti nyimpan masalah besar. Tapi lo tetap tertawa.”

Dan pembicaraan itu kembali terucap di suatu siang. Di sela ajang tukar kata dengan Gadis Pelangi Putih, which is sahabat saya Dian (bisa disapa di dianagelis.wordpress.com). Di sela pembicaraan kami yang cukup serius akan kehidupan dan pembelajaran. Kami membahas tawa sebagai intermezo yang menarik. Meski kehadirannya saat itu hanya sepersekian menit. Namun patahan kata itu kembali menginjeksi sugesti positif pada alam bawah sadar saya.

Mengapa saya senang tertawa?

Sekali lagi ada banyak faktor yang tersembunyi di balik tawa saya. Mungkin jika saya jabarkan satu-satu bisa dari Pamulang sampai Central Park. Tapi nggak papa ya?

Yang pertama. Saya memang senang tertawa. Untuk saya yang memang awam dengan filosofi dan kegunaan biologis di balik tawa, mungkin saya hanya bisa menyampaikan terjemahan panca indera saya. Tertawa membuat rileks. Ketika delapan jam harus terperangkap dengan segala kanebo (saya dan sahabat-sahabat saya sering menyebut ‘kekakuan’ sebagai kanebo.) Institusi yang menuntut kita untuk menegangkan otot dan persendian, tawa benar-benar hadir sebagai tamu istimewa. Seperti acara-acara televisi yang memiliki skill persuasi dalam hal tawa. Hal-hal kecil di hadapan kita pun bisa dijadikan acara televisi. Seperti gerakan lebay seorang sahabat yang sering menjuluki saya lebay, atau institusi kami yang saat ini seolah masih mencari jati diri, dan bahkan hal-hal yang mengguncang stabilitas emosi kita. Entah mengapa saya masih memilih tawa sebagai juara. Juara untuk menghadapi semua hal di hadapan saya. Tawa membelokkan penilaian buruk. Tawa itu pintu semu untuk hal yang terlihat. Dan tawa seperti jadi obat untuk masalah hidup yang masih betah nempel seperti buntut. Karena itu saya lebih memilih tawa untuk jadi teman ketimbang membuang waktu untuk hal-hal yang menyedot energi negatif.

Yang kedua. Tawa menguapkan energi negatif. Ini pernah saya alami ketika tengah membicarakan sebuah isu bersama Gadis Pelangi Putih. Sang gadis tengah membahas warna pelangi hitamnya yang masih betah bercokol di danau hati. Dia masih salahkan diri atas keabsurdan-keabsurdan yang dia lakukan, dan terus menggumam sambil rundukkan hati. Saat itu saya hanya diam sebelum akhirnya tertawa, meninggalkan jejak kebingungan di wajah sahabat saya. Di sana saya bilang, “Hey, justru itu sisi cute kamu, Di! Jangan terfokus kalau itu buruk. Justru ini sisi unyu dari kamu yang bisa jadi topik pembicaraan bareng pacar kamu nanti.” Dan alhamdulillah warna hitam pelanginya mulai memudar, berganti dengan tawa kami yang membahana. Saya bisa merasakan energi negatif menguar seiring dengan harmonisasi tawa kami yang saling menyapa di udara.

Yang ketiga. Tawa jadi penetralisir keabsurdan. Salah satu contoh dari sahabat saya Fahmi Fahreza. Saat itu dia tengah memasrahkan nasib pada tumpuan yang bergantung di tiang-tiang kereta dan memejamkan mata di tengah himpitan manusia-manusia pejuang yang membelah pagi. Fahmi tidak menyangka, kalau sambilan tidurnya bisa mengundang seorang pria tanggung mencabik tas ranselnya yang jelas-jelas tergantung di posisi depan. Jika kejadian ‘hampir kecopetan’ itu nyaris kejadian di hidup kita, hal yang selanjutnya terjadi biasanya teriakan menyudutkan, tarik urat antar manusia, atau bahkan bukan tidak mungkin bogem mentah yang jadi sarapan pagi. Namun sahabat saya saat itu hanya tertawa. “Ahahahaha” datar, antusias, dan takjub yang berbaur menjadi satu menjadi hadiah langsung bagi sang copet yang kecewa lantaran tidak ada yang bisa diambil. Tawa tambah membahana saat panik tak sempat hinggap di wajah sang Copet. Ia hanya tertunduk lesu sambil berbalik badan, sebelum akhirnya pergi terbenam di antara para penumpang.

Tawa yang mengudara dari Fahmi mencairkan suasana seketika. Menyelamatkan sang copet dari mata-mata lapar para penumpang penegak kebenaran. Meski hingga saat ini masih jadi perdebatan apakah copet layak diselamatkan atau tidak, paling tidak tawa sudah menyelamatkan pagi damai berembun yang tidak pantas dinodai oleh pertikaian.

Setidaknya, itu yang terlintas di kacamata saya yang gemar tertawa 😀

Best Regards

Sindayu Annisa Mukti

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s