Boku no Sekai

Orkestra Alam dalam Panggung Panca Indera

Saya suka langit. Mungkin ini sederhana bagi teman-teman yang lain, tapi saya suka rasa saat saya menyapa cahaya yang terbaring di biru angkasa. Sky always give me a good feeling. Saat masalah menerpa, saat hitam menampar. Langit selalu jadi solusi untuk tenangkan dada. Ditambah dengan istighfar, embun yang dihasilkan cahaya langit selalu berhasil mengalir lembut ke dada. Memberikan kenyamanan dan ketenangan yang –semoga- abadi untuk diri saya.

Saya teringat oleh kalimat sederhana teman saya, Fahmi Fachreza. Saat itu ia bercerita tentang ‘langit kanadanya’, which means pacarnya tersayang. Pacarnya selalu berkata, “Fahmi. Lihat ke atas. Jangan ke bawah.” Dan kalimat itu selalu berhasil memberikan saya kenyamanan. Alhamdulillah, 9 dari 10 percobaan saya selalu berhasil tenangkan diri ketika saya melihat ke atas. Saat di ruangan, saya menggapai cahaya neon. Saat saya di luar ruangan, perkasanya matahari selalu jadi teman. Ditambah dengan biru yang membuai hati, menghibahi saya kenyamanan tak terhingga. Bahkan saya sampai merasa sanggup terbang ke angkasa. Membelah udara dengan rasa yang tumpah ruah. Sambil merasakan angin yang menerobos melalui celah baju.

Tentu saja ada saatnya kita lihat ke bawah. Saat serpih keangkuhan dengan gerilya memasuki diri, hangat tanah masih jadi raja. Saat saya berjalan menelusuri tepi kereta, kerikil yang dipeluk air setelah hujan pun membuat saya tercenung untuk sejenak. Dengan pasrah mereka merelakan diri untuk jadi tumpuan. Diinjak oleh penghuni bumi. Dihentak oleh emosi yang menguasai diri. Memberi kurikulum gratis bahwa rendah hati yang seharusnya bersemi.

Tanah masih belum bosan ingatkan saya. “Nak. Rendahkan hati kamu. Kamu bukan siapa-siapa di bumi yang luas ini.” Kesombongan yang sempat hinggap di hati hanyalah serpihan kecil yang bahkan lebih rapuh dari debu. Ringkih. Yang dengan sekali hembusan nafas langsung pergi.

Tanah yang tertimbun aspal pun tidak kalah dermawan. Saat hujan selesai jatuh, tanah aspal berbaik hati sumbangkan genangan. Terkadang dengan jenaka mereka menyambut tetes air. Tik. Air yang berlompatan ceria. Belum lagi dengan pantulan indah langit di sana. Nyalakan reminder lagi untuk mencuri cahaya. Untuk kembali lihat ke atas. Untuk ingatkan diri bahwa semua tsunami hati pasti mereda dengan bantuan cahaya.

Terkadang alam bisu yang sering kita abaikan pun menyimpan bermilyar pesan tak kasat mata. Itu yang saya suka dari kekuatan alam. Hijau daun, tetes embun, rintik hujan, cahaya temaram mendung, sinar gagah matahari, kerlip bintang, lentera sendu bulan, kekuatan tanah, dan berjuta-juta ciptaan Tuhan lainnya yang membuat saya masih terkesima. Memicu hati saya untuk sapa dunia. Untuk nyengir pada bumi tercinta yang masih belum lelah berputar. Karena itu sebenarnya impian saya untuk melihat seluruh isi bumi. Menyaksikan segala kebudayaan yang berpencar di seluruh penjuru bulat bumi dengan panca indera.

Semoga Tuhan dan semesta mau berbaik hati mewujudkan doa saya. Amin. 😀

Best Regards

Sindayu Annisa M

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s